Senin, 27 September 2010

Geliat Paroki St.Helena



KEGAIRAHAN DAN HARAPAN

Ibu Betty beberapa waktu yang lalu sempat kelabakan. Pasalnya, pada saat digelar sosialisasi Bulan Kitab Suci di Bedeng, ia menyediakan konsumsi untuk 30 peserta. “Dari tahun ke tahun jumlah peserta yang datang tak pernah melebihi 30 orang”, tutur bu Betty. Namun kali ini, tidak tanggung-tanggung, yang datang 86 orang. Kenyataan ini memang mengejutkan namun tentu saja menggembirakan.

Pak Lim, seorang Koordinator Wilayah mengeluh karena kegiatan Gereja terlalu banyak pada saat yang sama. “Bayangkan, Sabtu ini (25/10) ada 3 kegiatan di Gereja yang penting dan perlu. Hari Minggunya, malah ada 4 kegiatan juga, termasuk pertandingan Olah Raga. Saya bingung kemana saya harus mengerahkan warga saya!”, keluhnya. Untung bapak yang baik ini berfikir positif. “Nampaknya semua pengurus sedang amat bersemangat!”, ujarnya lagi menghibur diri.

Kegairahan yang sama dirasakan juga di tingkat lingkungan. Sebagai contoh, pengurus lingkungan St. Beda merasa puas karena pertemuan bulan Kitab Suci yang mereka gabungkan dengan acara rekreasi diikuti sebagian besar warganya. “Sungguh luar biasa, dari 30 KK St.Beda, 27 KK, termasuk anak-anak, ikut dalam kegiatan ini….sampai-sampai acara sharing harus dibagi dalam 4 kelompok”, ujar Agus Suwanto bersemangat.

Belakangan ini paroki kita memang disibukkan dengan bermacam-ragam kegiatan. Beberapa kegiatan besar antara lain rangkaian acara pesta paroki, kunjungan uskup Mgr.Ign.Suharyo Pr dalam acara misa Krisma, Malam Dana di Hotel Indonesia Kempiski serta Pelantikan Pengurus baru.

Kegairahan menggereja tentu saja menggembirakan. Memang tidak semua hal berjalan dengan sempurna. Ada juga ketidak puasan atau bahkan kritik di sana-sini, namun masih dalam batas yang wajar. Yang pasti, para pengurus paroki menanggapi secara positif geliat yang sedang terjadi di paroki St.Helena.

Pernah seorang umat memberi kesaksian bahwa di kantornya ia kerap diminta untuk mengkoordinir kegiatan. “Rekan-rekan di kantor melihat potensi pada diri saya. Karenanya saya sering dipercaya memimpin pelbagai kegiatan yang dilakukan di kantor saya!”. Ia mengakui bahwa aktivitasnya di paroki (tempat asalnya dahulu) membuat dia terlatih untuk mengorganisir suatu kegiatan secara terencana. “Saya bersyukur mendapat kesempatan aktif di paroki”, imbuhnya.

Pedoman Gereja Katolik Indonesia mengajak umat untuk aktif terlibat dalam persoalan kancah masyarakat. Kekompakan serta keterlibatan di lingkungan intern Gereja merupakan bekal positif untuk terlibat dalam masyarakat luas. Lebih jauh, kerukunan serta guyubnya umat Katolik akan dinilai positif oleh masyarakat sekitar. Paroki Helena boleh berbangga bahwa umat mempunyai kepedulian untuk berperan serta dalam kegiatan gereja. Meski demikian, kegairahan yang menggebu tanpa koordinasi yang baik, akan merepotkan para pengurusnya. Profisiat! (Heri Kartono, OSC: Majalah WARNA, Oktober 2010)